Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Headline News

Banpem Keterampilan Menulis: Pensil Belum Diraut, CV Sudah Merapat

badge-check

Surat Penawaran beredar dikalangan sekolah dasar dari salah satu CV asal bogor (ist) Perbesar

Surat Penawaran beredar dikalangan sekolah dasar dari salah satu CV asal bogor (ist)

CIANJUR | IniRedaksi.com — Pensil belum tentu sudah diraut. Pulpen mungkin masih terbungkus. Buku tulis belum tentu dibuka.
Tapi satu hal tampaknya sudah mulai bergerak yaitu penawaran barang.

Begitulah warna-warni pelaksanaan Bantuan Pemerintah (Banpem) Sarana Keterampilan Menulis 2026 di Kabupaten Cianjur.

Program yang sejatinya ditujukan untuk membantu sekolah memenuhi sarana keterampilan menulis itu kini ikut menyeret satu topik yang tak kalah menarik, siapa yang memasok barangnya?

Bagi sebagian orang, ini mungkin pertanyaan biasa. Bagi pengusaha lokal, pertanyaan itu bisa jadi cukup menggelitik.

Sebab, ketika program pemerintah turun ke daerah, harapan pelaku usaha lokal biasanya sederhana. “Kalau kami mampu memenuhi syarat, bolehkah ikut jualan secara resmi?

Bukan minta karpet merah. Cukup jangan sampai karpetnya sudah digulung sebelum mereka masuk ruangan.

Seorang sumber yang meminta namanya dirahasiakan berharap pemerintah tidak hanya melibatkan penyedia dari luar daerah.

Menurutnya, pengusaha Cianjur yang mampu memenuhi spesifikasi dan persyaratan program juga layak diberi kesempatan.

“Kalau memang ada program pengadaan alat tulis sekolah, kenapa tidak memberdayakan pengusaha-pengusaha Cianjur,” ujarnya, Kamis (9/9/2026).

Masuk akal juga.
Kalau uang program berputar di Cianjur, yang ikut tersenyum bukan hanya sekolah. Toko alat tulis bisa tersenyum, distributor bisa tersenyum, pekerja bisa tersenyum, bahkan tukang kopi di dekat toko mungkin ikut tersenyum karena ada tambahan pelanggan.

Ekonomi lokal pun tidak sekadar jadi penonton dari pinggir lapangan.

Menurut sumber tersebut, pengusaha lokal pada prinsipnya siap menyediakan kebutuhan program selama barang yang ditawarkan memenuhi spesifikasi dan seluruh ketentuan.

“Kalau ada pengusaha Cianjur yang mampu memenuhi spesifikasi dan ketentuan, kenapa tidak diberdayakan,” katanya.

Namun cerita kemudian masuk ke bab yang lebih menarik.
Ada informasi mengenai penawaran produk dari sejumlah penyedia kepada sekolah. Salah satu nama yang mencuat adalah CV Nano Sejahtera.

Nama CV pun akhirnya ikut nongol dalam percakapan. Padahal, programnya sendiri bernama keterampilan menulis.

Agaknya memang benar, sebelum siswa belajar menulis, orang dewasa sudah lebih dulu sibuk menulis penawaran.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) wilayah Cibeber, Rahmat Edya, kemudian angkat bicara.
Ia membantah adanya pengarahan ataupun tekanan kepada kepala sekolah untuk memilih penyedia tertentu.

Rahmat mengakui kemungkinan sejumlah sekolah di wilayah Cibeber sudah menyetujui penawaran dari CV Nano Sejahtera.

Namun menurutnya, perusahaan tersebut disebut sebagai rekanan yang direkomendasikan kementerian.

“Di wilayah Cibeber kemungkinan ada yang sudah menyetujui penawaran CV tersebut karena itu rekanan yang direkomendasikan kementerian. Namun, saya tidak pernah memberikan penekanan,” ujar Rahmat melalui sambungan telepon kepada Tim Ini Digital Network, Kamis (9/9/2026).

Rahmat juga menegaskan dirinya tidak memiliki kewenangan menentukan penyedia.

Dengan kata lain, urusan memilih penyedia bukan tombol yang bisa ditekan K3S sesuka hati.
Apalagi, kata dia, sejumlah CV lain juga telah menawarkan produk kepada sekolah.

“Kalau dikatakan pengondisian, programnya juga baru berjalan dan siapa pun boleh menawarkan. Saya tidak mengiring untuk memilih CV tersebut,” katanya.

Mekanisme Banpem Sarana Keterampilan Menulis 2026, lanjut Rahmat, telah disampaikan kepada kepala sekolah melalui webinar.
Keputusan penggunaan bantuan berada pada masing-masing sekolah sesuai ketentuan.

Nah, sampai di sini ceritanya sebenarnya sederhana.
Ada program pemerintah.
Ada sekolah penerima.
Ada barang yang harus dibeli.
Ada penyedia yang menawarkan.
Dan ada pengusaha lokal yang bertanya:
“Lho, kami juga ada, Pak.”

Pertanyaan berikutnya tentu menjadi ranah Disdikpora Kabupaten Cianjur.
Apakah mekanisme pemilihan penyedia sudah berjalan sesuai ketentuan?

Apakah sekolah benar-benar memiliki ruang memilih?
Bagaimana posisi penyedia dari luar daerah?

Dan yang paling penting, apakah pengusaha lokal yang memenuhi persyaratan juga memperoleh kesempatan yang sama?

Hingga berita ini diturunkan, Disdikpora Kabupaten Cianjur belum memberikan resmi mengenai mekanisme pemilihan penyedia serta keterlibatan perusahaan dari luar daerah dalam pelaksanaan program tersebut.

Masyarakat tentu tidak membutuhkan drama. Yang dibutuhkan hanya keterbukaan.
Sebab kalau semuanya memang sesuai aturan, tinggal dijelaskan. Kalau semua penyedia boleh menawarkan, tinggal dibuka. Kalau sekolah memang bebas menentukan pilihan, tinggal diterangkan.

Biar pensil tetap menjadi pensil, bukan berubah menjadi alat untuk menggambar tanda tanya.
Dan untuk para pengusaha lokal, mungkin pesan moralnya sederhana,
Jangan buru-buru menyerah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

60 Lulusan Abdi Bangsa Cianjur Siap Bersaing di Pasar Kerja Global

21 Okt 2026 - 14:11 WIB

60 Lulusan Abdi Bangsa Cianjur Siap Bersaing di Pasar Kerja Global

Terjerat Kosipa Bikin Pusing, FPK2R Siap Bantu, Bukan Ikut Nagih.

20 Okt 2026 - 11:09 WIB

Terjerat Kosipa Bikin Pusing, FPK2R Siap Bantu, Bukan Ikut Nagih.

Polisi Bongkar Sarang Judi Online di Sukaresmi, 9 Orang Dibekuk.

15 Okt 2026 - 16:18 WIB

Polisi Bongkar Sarang Judi Online di Sukaresmi, 9 Orang Dibekuk.

Tambang Ilegal Marak, 95 Lokasi di Cianjur dan Sukabumi Masuk Pengawasan ESDM

7 Okt 2026 - 13:35 WIB

Tambang Ilegal Marak, 95 Lokasi di Cianjur dan Sukabumi Masuk Pengawasan ESDM

BGN Sudah Ingatkan Soal IPAL, SPPG di Pacet Malah Dikeluhkan Bau Limbah

6 Okt 2026 - 15:36 WIB

BGN Sudah Ingatkan Soal IPAL, SPPG di Pacet Malah Dikeluhkan Bau Limbah
Trending di Daerah