Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Headline News

Bukan Sekadar Seporsi Makanan, Ada Perjuangan Panjang di Balik MBG Pelosok Cianjur

badge-check

Bukan Sekadar Seporsi Makanan, Ada Perjuangan Panjang di Balik MBG Pelosok Cianjur Perbesar

IniRedaksi.com — Seporsi makanan bergizi mungkin terlihat sederhana ketika tersaji di hadapan seorang anak. Namun, di SD Budi Setra, Desa Bojong Kaso, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur, makanan itu menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, kepedulian, dan harapan.

Sebelum sampai ke tangan anak-anak, makanan tersebut harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari pusat Kecamatan Agrabinta. Bukan melewati jalan beraspal yang mulus, melainkan menyusuri jalan tanah berbatu, menanjak, berkelok, dan membelah kawasan perbukitan.

Di tengah medan yang tidak mudah itu, sepeda motor roda dua yang dimodifikasi khusus menjadi andalan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bojong Kaso untuk mengantarkan makanan bagi para siswa.

Kendaraan sederhana itu mungkin tidak istimewa jika dilihat dari luar. Namun, di balik fungsinya, tersimpan peran penting: menghubungkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anak-anak yang bersekolah jauh dari pusat keramaian.

Jarak yang jauh tidak membuat kebutuhan anak-anak menjadi kurang penting. Justru di wilayah dengan akses terbatas seperti inilah, perjuangan menghadirkan pelayanan menjadi begitu berarti.

Ketika akses menjadi tantangan, kepedulian diuji bukan melalui kata-kata, melainkan melalui tindakan.

Perjalanan yang Tidak Terlihat di Meja Makan

Di SDN Budi Setra, anak-anak menyambut makanan bergizi dengan antusias. Bagi mereka, kedatangan makanan telah menjadi bagian dari keseharian yang dinanti.

Namun, tidak semua anak mengetahui bagaimana makanan itu sampai ke sekolah mereka.

Ada relawan yang harus mengendarai sepeda motor melewati jalan berbatu dan tanjakan terjal. Ada waktu berjam-jam yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ada pula tanggung jawab untuk menjaga agar makanan tetap layak dikonsumsi setelah melalui perjalanan panjang.

Semua itu menjadi bagian dari pekerjaan yang mungkin tidak terlihat ketika anak-anak mulai menyantap makanan mereka.

Di balik setiap hidangan, ada tenaga dan waktu yang dicurahkan agar manfaat program dapat menjangkau sekolah di pelosok.

Kepala SDN Budi Setra mengungkapkan bahwa program MBG telah berjalan sekitar enam bulan. Selama itu, pihak sekolah merasakan manfaatnya, terutama dari antusiasme siswa yang selalu menantikan kehadiran makanan.

“Saya mewakili seluruh warga sekolah di sini, alhamdulillah manfaatnya sudah sangat terasa. Antusiasme anak-anak luar biasa, mereka sangat bangga dan senang. Malah sekarang, setiap hari kehadiran makanan bergizi ini selalu ditunggu-tunggu,” tutur  Suryana, SPd, Kepala Sekolah SDN Budi Setra.

Kebahagiaan anak-anak menjadi salah satu hal yang paling dirasakan pihak sekolah. Di tengah keterbatasan akses, perhatian yang hadir secara rutin memberikan pengalaman tersendiri bagi mereka.

Kepala sekolah pun menyampaikan apresiasi kepada SPPG dan para relawan yang rela menempuh perjalanan berat demi menjangkau para siswa.

“Sudah sekitar enam bulan program ini berjalan, dan alhamdulillah terima kasih kami sampaikan kepada SPPG beserta para relawan yang rela menempuh perjalanan berat demi anak-anak kami di sini,” katanya.

Dapur Pelayanan, Tumbuh Harapan Seorang Ibu

Di balik perjuangan mengantarkan makanan, terdapat kisah Susilawati, relawan SPPG Bojong Kaso yang juga merasakan perubahan dalam kehidupan keluarganya.

Sebelum bergabung sebagai relawan, ia menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga tanpa penghasilan sendiri. Kehadiran program MBG kemudian membuka kesempatan baginya untuk memperoleh penghasilan dan membantu perekonomian keluarga.

Bagi Susilawati, pekerjaan itu bukan sekadar aktivitas sehari-hari. Ada manfaat yang langsung ia rasakan dalam kehidupan rumah tangganya.

Ia kini memiliki kesempatan untuk ikut memenuhi kebutuhan keluarga, sementara anaknya sendiri juga menjadi salah satu penerima manfaat program tersebut.

“Alhamdulillah, semenjak ada program MBG ini sangat membantu saya dan keluarga saya. Yang tadinya saya seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak berpenghasilan, sekarang sangat membantu untuk perekonomian keluarga saya, dan sangat membantu juga buat anak saya sebagai penerima manfaat,” ungkap Susilawati.

Kisahnya memperlihatkan sisi lain dari program MBG. Di satu sisi, anak-anak menerima makanan bergizi. Di sisi lain, keterlibatan sebagai relawan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang ikut menjalankan pelayanan.

Dua manfaat itu bertemu dalam kehidupan sehari-hari Susilawati pekerjaannya membantu keluarga, sedangkan program yang ia dukung juga memberi manfaat kepada anaknya.

Dari pengalaman tersebut, ia berharap program MBG terus berlanjut dengan evaluasi dan perbaikan.

“Harapan saya dengan adanya program MBG ini, semoga tetap berlanjut dan terus dievaluasi supaya lebih baik lagi ke depannya, supaya anak-anak yang di Indonesia mendapatkan gizi yang seimbang, terutama untuk anak saya. Semoga berkah,” katanya.

Harapan itu lahir dari pengalaman seorang ibu yang merasakan manfaat secara langsung. Ia ingin anak-anak memperoleh gizi yang seimbang, sekaligus berharap kesempatan yang membantu keluarganya dapat terus memberikan kebaikan.

Anak-Anak Tidak Memilih Tinggal di Mana Mereka Dilahirkan

SDN Budi Setra berada di wilayah yang membutuhkan upaya ekstra untuk dijangkau. Kondisi geografis membuat perjalanan menuju sekolah tidak semudah perjalanan ke sekolah-sekolah yang berada di pusat kota.

Namun, anak-anak yang belajar di sana memiliki kebutuhan dan hak yang sama dengan anak-anak lainnya.

Mereka juga membutuhkan asupan gizi yang layak. Mereka juga berhak mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk tumbuh serta belajar dengan baik.

Keterbatasan jalan seharusnya tidak membuat mereka berada di urutan belakang dalam memperoleh pelayanan.

Kisah perjalanan relawan SPPG Bojong Kaso menunjukkan bahwa menjangkau wilayah terpencil membutuhkan kerja nyata, ketekunan, dan dukungan yang berkelanjutan. Kehadiran program saja tidak cukup, pelaksanaannya juga perlu terus dievaluasi agar pelayanan berjalan semakin baik dan manfaatnya sampai kepada penerima.

Di sinilah perjuangan para relawan memiliki arti. Mereka menjadi bagian dari upaya mengatasi jarak yang selama ini menjadi tantangan bagi masyarakat di kawasan perbukitan Cianjur Selatan.

Mungkin mereka tidak dapat mengubah kondisi jalan dalam semalam. Namun, melalui pekerjaan yang dijalankan, mereka berusaha memastikan bahwa anak-anak di sekolah terpencil tetap memperoleh perhatian.

Harapan yang Menempuh Jalan Berbatu

Pada akhirnya, kisah MBG di SDN Budi Setra bukan hanya tentang makanan yang diantarkan menggunakan sepeda motor modifikasi. Ini juga tentang bagaimana sebuah pelayanan menyentuh kehidupan masyarakat dalam berbagai bentuk.

Bagi anak-anak, ada makanan yang dinanti. Bagi sekolah, ada manfaat yang disyukuri. Bagi Susilawati, ada penghasilan yang membantu keluarga. Sementara bagi para relawan, ada tanggung jawab yang harus mereka jalankan meski perjalanan tidak selalu mudah.

Tiga jam perjalanan itu menjadi gambaran bahwa menghadirkan pelayanan di wilayah terpencil memerlukan usaha yang tidak sedikit. Jalan berbatu dan tanjakan terjal bukan sekadar latar perjalanan, melainkan tantangan nyata yang harus dihadapi setiap kali makanan dikirim ke sekolah.

Program MBG tentu perlu terus diperbaiki melalui evaluasi agar pelaksanaannya semakin optimal. Namun, pengalaman di SDN Budi Setra memperlihatkan betapa pentingnya memastikan anak-anak di daerah terpencil tidak kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaatnya.

Sebab, bagi seorang anak, seporsi makanan bukan sekadar sesuatu yang mengenyangkan. Di dalamnya ada perhatian terhadap kebutuhan mereka untuk tumbuh dan belajar.

Dan bagi seorang ibu seperti Susilawati, pekerjaan sebagai relawan bukan sekadar cara mendapatkan penghasilan. Ada kebanggaan ketika ia dapat membantu keluarganya sekaligus menjadi bagian dari pelayanan bagi anak-anak.

Di tengah perbukitan Bojong Kaso, perjalanan itu terus membawa pesan sederhana jarak memang dapat memisahkan, tetapi kepedulian seharusnya mampu menjangkau.

Karena masa depan anak-anak tidak boleh ditentukan oleh seberapa jauh sekolah mereka dari pusat kota. Di mana pun mereka tumbuh, mereka tetap berhak mendapatkan gizi, perhatian, dan kesempatan yang layak. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Polres Cianjur Ringkus Begal Bersenjata Beraksi di 120 TKP

6 Nov 2026 - 10:22 WIB

Polres Cianjur Ringkus Begal Bersenjata Beraksi di 120 TKP

SMK Go Global Diluncurkan di Cianjur, 80 Peserta Disiapkan Bekerja di Luar Negeri

31 Okt 2026 - 12:19 WIB

SMK Go Global Diluncurkan di Cianjur, 80 Peserta Disiapkan Bekerja di Luar Negeri

Rapat Evaluasi Dapur SPPG di Naringgul Berujung Adu Jotos, Menu Apa Ini?

30 Okt 2026 - 22:00 WIB

Rapat Evaluasi Dapur SPPG di Naringgul Berujung Adu Jotos, Menu Apa Ini?

Lima Tahun Tanpa Kepastian Hukum, IPHI Ahmad Yani Lanjutkan Proses Pidana

26 Okt 2026 - 11:39 WIB

Lima Tahun Tanpa Kepastian Hukum, IPHI Ahmad Yani Lanjutkan Proses Pidana

60 Lulusan Abdi Bangsa Cianjur Siap Bersaing di Pasar Kerja Global

21 Okt 2026 - 14:11 WIB

60 Lulusan Abdi Bangsa Cianjur Siap Bersaing di Pasar Kerja Global

Terjerat Kosipa Bikin Pusing, FPK2R Siap Bantu, Bukan Ikut Nagih.

20 Okt 2026 - 11:09 WIB

Terjerat Kosipa Bikin Pusing, FPK2R Siap Bantu, Bukan Ikut Nagih.
Trending di Headline News